SEJARAH DESA PETULU
Sejarah Desa Petulu yang ada sesuai dengan data Monografi Desa Petulu yang ditulis berdasarkan cerita orang-orang tua dari mulut ke mulut yang kesemuanya mempunyai isi dan makna yang hampir sama, sehingga diyakini sebagai sejarah dari Desa Petulu dan dapat diuraikan sebagai berikut;
Pada Jaman dahulu, lokasi Desa Petulu merupakan sebuah hutan lebat dengan beraneka ragam tanaman dan hampir tidak dapat di jamah oleh manusia. Namun dalam perkembangan jaman dan dengan kebulatan tekad serta keberanian dari para "Wangsa" yang terdiri dari :
- Wangsa Gunaksa sebanyak 2 orang
- Wangsa Pasek sebanyak 14 orang
- Wangsa Batuan sebanyak 11 orang
- Wangsa Tangkas sebanyak 2 orang
- Wangsa Bandem sebanyak 9 orang
Mereka inilah yang datang untuk pertama kalinya ke lokasi tersebut dan mendirikan pondok-pondok untuk tempat berteduh dan berlindung. Mereka merupakan kelompok yang hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari tanah untuk bertani dan bercocok tanam.
Akhirnya dari lima "wangsa" tersebut menyatukan diri menjadi kelompok masyarakat, dalam perkembangannya kelompok tersebut semakin berkembang, selanjutnya mereka bermusyawarah untuk membentuk kelompok yang lebih besar dan disebut "Banjar" serta bersepakat untuk memilih salah seorang warga menjadi pimpinan dari kelompok tersebut yang diberi nama "Kelian" dan mereka memilih I Gede Danganan (dari wangsa Gunaksa) sebagai Kelian yang pertama.
Mulai saat itu dilakukan peruman-paruman untuk membahas kelengkapan suatu pemerintahan/Banjar yang baru dibentuk. Dalam musyawarah/sangkepan tersebut diperoleh ide dan pemikiran untuk melengkapi pemerintahan banjar tersebut dengan peraturan/awig- awig sebagai pengikat serta petunjuk dalam pelaksanaan kegiatan kemasyarakatan maupun pemerintahan, dan selayaknya sebuah pemerintahan diperlukan pemimpin yang memegang pemerintahan sesuai keyakinan Agama Hindu saat itu selayaknya dipimpin oleh seorang pemimpin yang berasal dari Wangsa Ksatria dan Wangsa Brahmana sebagai penasehat dan pemimpin agama, namun di masyarakat baru tersebut belum ada kasta/wangsa Brahmana dan kasta ksatria. Untuk itulah dalam sangkepan diputuskan bahwa syarat tersebut harus dipenuhi, sebagai tindak lanjut mereka mohon petunjuk kepada raja. Sebagai utusan untuk menghadap raja adalah Kelian yang telah terpilih yaitu I Gede Danganan. Kelian menghadap kepada Raja
Dewa Agung Mayun (raja ke-2 di Sukawati) untuk memohon salah satu putra beliau agar berkenan memimpin masyarakat yang telah dibentuk.
Akhirnya diutuslah salah satu dari 11 (sebelas) putra beliau yang bernama Cokorda Gunung (ibu beliau berasal dari desa Sampalan, Klungkung yang juga wangsa Gunaksa) untuk memimpin masyarakat yang baru terbentuk, dan beliau dibekali sebuah keris pusaka yang berliuk tiga yang diberi nama I Baru Ahas sebagai pegangan di banjar yang baru tersebut. Setelah memimpin di tempat tersebut melalui tapa brata semadi beliau memperoleh anugerah 2 (dua) buah keris pusaka yang diberi nama Karang Suung dan I Ketug Lindu. Saat ini keris pusaka tersebut tersimpan di Puri Petulu.
Asal mula kata Petulu berasal dari kata "Betulu" yang terdiri dari dua kata "Bet" dan "Ulu", "Bet" berarti hutan yang lebat dan "Ulu" berarti batas utara dari kerajaan Sukawati. Lama kelamaan kata "Betulu" ini oleh masyarakat disebut Petulu yang merupakan pusat pemerintahan desa. Dalam perkembangannya Desa Petulu meliputi 6 (enam) dusun/banjar.
- Banjar Petulu Desa
- Banjar Petulu Gunung
- Banjar Kutuh Kaja
- Banjar Kutuh Kelod
- Banjar Nagi
- Banjar Laplapan